Cerpen: SUKMA

Oleh Tri Wahyu Utami <pedrowati@gmail.com>

Tangis Soraya seakan memecah langit dan meruntuhkan bumi. Sejak malam-malam sepi yang mencekam itu. Setahun yang lalu. Seakan kini terulang. Betapa tidak, orang yang sangat ia kagumi, cintai bahkan segalanya bagi kehidupannya telah pergi entah kemana. Dimanapun dan setiap detik, ia seakan kehilangan saraf kesadarannya. Rasa tidak percaya bercampur curiga melandanya.

Jam telah menunjukkan pukul satu dini hari. Mata Soraya sembab, kantong matanya setebal buah pepaya. Berulang kali ia keluar masuk kamarnya. Kerisauan seakan menyiksa seluruh batinnya. Jam dinding menjadi teman bisu. Kembali ia ke kamar, duduk di ranjang. Lalu berdiri, keluar kamar, mengintip suasana malam di luar sana melalui sela-sela tirai jendela. Kembali ia duduk di atas sprei warna merah tua  bercorak bunga mawar kuning. Gundah dan gelisah.

Pukul dua dini hari. Seseorang yang ditungguinya belum juga datang. Pikirannya semakin kacau. Tentu saja ditambah rasa cemburu. Sangat tidak wajar, suaminya pergi tanpa pamit, bahkan hingga larut malam. Ia mulai sibuk menelpon semua teman kerja sang suami. Sepertinya malam tak menyurutkan niatnya mengganggu orang-orang yang sedang bermimpi indah. “Halo Tom, apakah Roy pergi ke kantor tadi siang?” seru Soraya sebelum penganggat gagang telpon di sana mengucapkan salam. “Oh Soraya, malam begini, heeemm…rasanya dia tidak ke kantor hari ini,” jawab Tom yang masih mengantuk. “Hemm terima kasih Tom.”

Lebih dari sepuluh orang yang telah ia hubungi. Tapi tak ada satu pun yang mengetahui dimana keberadaan Roy, si pejantan tangguh yang selama dua tahun ini telah dinikahinya. Pikirannya semakin kacau padahal jarum jam telah berpindah pada angka lima. Matahari mulai mengintip bumi. Angin sepoi membangunkan daun-daun berselaput embun.

Rambut Soraya masih awut-awutan. Kini, matanya sudah setebal daging semangka. Ia terus memandangi jam dinding seraya duduk di kursi kayu. Di sanalah biasanya mereka berdua menghabiskan malam sebelum tidur, bercerita dan bercanda. Setelah kejadian setahun yang lalu, Soraya seperti mati suri. Bayi pertama yang ia kandung harus berakhir tragis akibat kecelakaan. Ia pun divonis tidak akan memiliki keturunan lagi. Jika suaminya pergi, terasa lengkap derita Soraya.

***

Belum habis rasa sedih Soraya. Di kantor swasta yang bergerak dibidang percetakan,  tempat ia bekerja sekaligus tempat bertemunya dengan sang suami, tidak juga memberikan hiburan. Ia tetap diam meski bilik-bilik bangku di sebelah asyik menggosipkan artis-artis. Soraya tidak fokus bekerja. Ia menggenggam erat handphone suaminya yang biasanya tidak pernah ia tinggalkan di rumah, bahkan ke kamar kecil pun Roy tak pernah luput dari barang elektronik itu. Ia berharap-harap cemas tentang kabar dari suaminya. Tapi hingga pukul tiga sore, saatnya ia harus pulang, tak juga kabar itu datang. Yang ada hanya dering telpon dari kantornya, dari sahabatnya, SMS dari teman kerja dan saudara-saudaranya. Soraya tidak mengangkat telpon itu, juga tidak membalas SMS yang berjubelan memasuki in book, menanyakan pekerjaan, kabar, dan ada pula yang salah sambung. Soraya tak tahan lagi, air mata yang tertampung di kantong matanya muncrat pada naskah-naskah yang harus ia edit. Seakan dunia ini tidak ada matahari, tidak ada angin, tidak ada manusia lain kecuali dirinya yang sedang dilanda kemurungan.

Pukul lima sore, belum ada kabar. Teman-teman kerja Soraya telah menghilang satu per satu. Dan lima belas menit kemudian kantor sangat sepi. Yang ada hanya Tukijan membersihkan lantai dan sampah-sampah berhamburan. Dengan langkah lunglai, Soraya menarik tas lalu membuka pintu. Sebelum keluar, dia hanya memandang Tukijan yang seolah merasakan apa yang ia rasakan. Wajahnya kebapakan. Tukijan adalah teman ngobrol yang bijaksana, dan Soraya senang jika bisa bercurah hati padanya. Namun kali ini seolah Tukijan tahu benar, bahwa Soraya tidak ingin diganggu. Lelaki berusia enam puluh lima tahun itu hanya tersenyum, jika saja dia mampu mengeluarkan suara dia akan berkata; “kamu harus kuat”. Soraya membalasnya dengan senyum kecut, lalu menutup pintu dengan pelan.

Ia mulai menyusuri lorong-lorong tangga kantor. Dengan langkah berat, ia memandang halaman kantor dan areal parkir yang luas. Lalu melangkahkan kaki kembali. Air matanya tumpah di jalanan. Untuk pulang, Soraya mesti menempuh perjalanan hingga satu kilometer dari kantornya, dan Soraya memilih naik becak. Ia memandang para pedagang kaki lima, memandang taman yang disesaki pedagang asongan dan puluhan konsumen. Melihat orang berlalu lalang, rumah, mobil, truk dan swalayan. “Stop pak, turun di sini,” teriak Soraya pada tukang becak itu. Setelah menyodorkan uang lima ribu rupiah, ia mulai menapaki jalanan sempit. Sebuah gang sebagai jalan alternatif menuju rumahnya.

Sesampai di rumah, ibu mertuanya terisak. Sedih menyaksikan Soraya dan tentu saja memikirkan buah hatinya tak kunjung pulang. Soraya bergegas menuju kamar mandi, lalu ia memasukkan beberapa baju dalam tasnya. Lalu perempuan berambut panjang dan lebat itu menghampiri mertuanya dan mohon pamit. Dia mengatakan bahwa tidak mungkin dia kuat menahan derita ini. Ia ingin tenang selama dua hari di rumah adiknya. Tapi tangis pecah dari mata sang mertua, mereka saling berpelukan dan Soraya pun mengurungkan niatnya.

***

Roy berada di tengah hutan. Beberapa perajurit istana berjejer menghadang langkahnya yang lunglai kelelahan. Prajurit yang dilengkapi tombak dan jubah anti peluru itu lalu berhenti. Mereka serentak mengepung Roy. Lalu satu diantara mereka menggandeng tangan Roy, mengajaknya berjalan kaki menelusuri hutan luas dan buas. Tak ada percakapan sedikit pun. Roy membisu, begitu pula perajurit-perajurit yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Lama Roy dituntun dan dikawal, sampailah ia di suatu tempat yang sepertinya telah dikenalnya. Sesaat ia mengulas balik ingatan, namun tak satupun dapat dimunculkannya.

Sebelum memasuki gua yang megah, seorang berpakaian Patih dari sebuah kerajaan yang sulit dikenali, menghampiri Roy. Sama, tanpa sepatah katapun terucap. Sementara perajurit-perajurit itu mundur dan membubarkan diri. Dengan sigap, Patih yang memiliki badan tegap dan gagah itu menggenggam tangan Roy dan mengajaknya menginjakkan kaki melalui pintu goa. Mata Roy melirik ke kanan dan ke kiri. Kepalanya berkunang-kunang. Lantai gua mirip tanah yang tandus, tapi sekilas seperti batu pipih besar yang disusun. Roy sendiri tak bisa menebak lantai macam apa itu. Lebar gua mencapai kurang lebih tiga meter. Panjangnya, Roy tidak bisa mengira-ira. Sangat panjang.

Roy merasa badannya lemas tak berdaya. Tapi kakinya tetap melangkah sementara tangan kanannya masih dituntun sang Patih. Sekilas tanpa sengaja, Roy memperhatikan lelaki separuh baya itu. Roy tak bisa membuka mulutnya meski sebenarnya ia menyimpan banyak pertanyaan untuk diajukan. Siapa kau, dimana ini, mau kemana, untuk apa? Semua itu bagaikan petir berkilat-kilat di otak Roy. Tapi tetap saja, dia tidak mampu berbicara, ataupun mengisyaratkan perkataan lewat mimik mulutnya. Kerja kerasnya membuka bibir percuma saja. Para penjaga yang berseragam perajurit di sekeliling gua juga membisu. Patih tidak sekalipun menoleh pada Roy. Seperti acuh, namun genggaman tangannya sangat erat, seperti ada rasa kasih sayang yang mendalam. Tak ingin dipisahkan.

Roy mulai tidak kuat melangkah lagi. Berkilo-kilo meter telah ia tempuh. Namun, tak jua Roy mengerti arti semua ini. Mata Roy mulai mengantuk, sebentar saja dia memejamkan matanya, cahaya putih memancar dan menerpa sekujur tubuhnya. Seketika Roy membelalak. Matanya seperti bola pimpong. Dia terkaget namun tetap tidak bisa membuka mulutnya. Sementara Patih tetap tenang. Genggaman tangannya semakin erat, lalu menggeretnya kedalam cahaya kemilau itu.

***

Soraya makin tidak bernyawa. Air matanya telah kering. Dia sudah menghubungi polisi agar segera dilakukan pencarian. Semua orang yang dikenalnya tidak mengetahui keberadaan suami tercintanya. Empat hari sudah kepergian belahan jiwanya. Soraya tidak mampu melakukan pekerjaan apapun sebelum suaminya kembali. Tubuhnya susut lima kilo, badannya kering dan sangat lusuh. Wajahnya pucat. Sejak kepergian Roy, Soraya telah hilang akal sehat. Demikianlah cinta, pikir Soraya.

Ibu mertuanya telah menabahkan Soraya, tapi tidak mempan juga. Semua sahabat menghibur, namun gagal. Seorang sahabat dekat tapi berjarak sangat jauh tiba-tiba menelpon. Dia menanyakan kabar Soraya. Tentu saja sang sahabat tidak tahu persis apa yang telah terjadi pada perempuan yang menjadi sahabat baik sekaligus dikaguminya. “Roy pergi, empat hari tidak pulang. Belum ada kabar,” ujar Soraya lirih.

Beberapa ungkapan seorang sahabat itu mampu menggugah Soraya. Ia bangkit, seperti sayap yang berkembang. Ia mulai terbang lagi, ia beranjak dari telepon itu. Sambil tersenyum manis, Soraya menyeruput teh manis dan duduk di beranda. “Pasrah saja,” ucapan sahabatnya yang terngingang di kepalanya.

Soraya mulai mennyusun akal. Detik itu juga, ia bergegas mengemas keperluan pendakian. Ia ingat, dulu sewaktu Soraya terlelap, ia mendengar suaminya mengigau dan menyebut gunung Sumilir. “Mungkin saja dia di sana terdampar, sakit, dan tidak sangggup pulang,” gumamnya seraya menyabet kue di meja makan.

Baru saja dia akan pergi, Ibu mertuanya mencegah. Apapun yang terjadi, Soraya harus tinggal.

***

Roy masih terkagum-kagum dengan gemerlapan cahaya itu. Ia merasa melangkah di tumpukan awan putih nan bersih. Tidak ada lantai, tidak ada tanah. Yang ada hanya awan putih, cahaya yang kemilau. Patih tetap diam, tapi kali ini dia tersenyum. Seketika pula cahaya itu lenyap dari hadapan. Kini neraka muncul dalam sekejap. Tiba-tiba isi gua menjadi sangat luas. Seluas dunia ini. Di kanan kiri Roy dan Patih berjalan bergandengan, ratusan bahkan jutaan orang terluka. Darah berceceran, mereka meronta meminta tolong. Mengulurkan tangan-tangan yang terluka. Tanpa suara.

Yang lebih mengerikan adalah potongan kepala, kaki, tangan, bola mata berceceran di tanah bersimbah darah. Ternak-ternak meronta. Semua isi alam tumpah jadi satu. Roy bergidik, bulu kuduknya berdiri. Badannya menggigil seperti orang kedinginan. Wajahnya pucat pasai. Matanya ingin dipejamkan, tapi tidak mampu. Mata itu tetap melek, tetap tidak berkedip barang sedetikpun. Mereka terus berjalan menyusuri kesakitan isi alam semesta. Sampai pada akhirnya ada sebuah jembatan emas yang menghubungkan gua dengan istana. Jembatan panjang itu bercat putih bersih seperti kain sutra yang halus dan lembut. Nampak dari kejauhan istana itu menjulang tinggi dengan atap semakin merucut. Di puncak atap itu tampak berkilau, barangkali itu adalah emas.

Patih meregangkan genggamannya. Seolah memberi isyarat penawaran. Tetap tinggal di kelukaan dunia, ikut bersama ke istana, atau kembali ke hutan dan menyusuri jalan untuk pulang. Roy telah kehabisan pikir, otaknya seperti dicuci, disikat, ditumbuk. Ia tak mampu berdialog dengan hati nuraninya. Seketika itu, wajah istrinya tampak di kedalaman lautan luas yang berjembatan sutra. Disusul wajah ibunya, saudaranya, teman, dan segala macam tanggung jawab yang mesti ia selesaikan. Di ujung jembatan sutra itu, nampak bocah kecil berpakaian bangsawan, ia sangat lugu. Tangannya melambai lembut pada Roy. Matanya bercahaya. Dengan terheran dan kagum, Roy mereka-reka bahwa bocah itu adalah putranya yang telah ia rindukan selama setahun ini. Yang telah dipanggil Sang Kuasa untuk ikut bersemayam di surga. Roy berada dalam kebimbangan.

***

Soraya semakin kaku. Polisi belum juga menemukan Roy. Diam-diam, saat pagi dini hari Soraya kabur dari rumah. Dengan perlengkapan yang matang, ia mengajak beberapa rekannya menyusuri gunung Sumilir. Perjalanan dengan kendaraan ditempuhnya dalam waktu lima jam. Setelah itu, kendaraan roda empat tak mampu menyusuri jalanan gunung yang terjal. Terpaksa sekawanan itu mendaki jalan setapak menuju puncak gunung.

Tekad bulat telah meruntuhkan keputusasaan Soraya. Empat jam telah mereka lalui. Namun tak ada tanda-tanda ada manusia yang bepergian ke gunung itu. Tiba-tiba sekawanan itu dikejutkan oleh kedatangan Tim Sar gabungan yang ditugaskan mencari Roy atas permintaan ibu mertua Soraya, mereka saling berbincang sebentar kemudian melanjutkan perjalanan.

Puncak gunung Sumilir telah dicapai. Suasana sangat sepi, mereka saling berpencar melakukan pencarian. Seperti ada ketukan, Soraya yakin suaminya berada tak jauh darinya berdiri. Lama Soraya memandang sebuah batu besar. Di sela-sela itu ada sebuah lubang dihimpit pohon beringin besar. Ada dua petilasan tidak tertera nama. Tapi itu memang benar petilasan, seperti kuburan pada jaman kuno.

Dengan sangat pelan, Soraya mengintip isi lubang itu. Ia mengibaskan dedaunan yang menutup lubang. Sekarang lubang itu nampak seperti gua. Tak disangka, suaminya tergeletak di antara sempitnya gua itu. Soraya terkaget dan teriak minta pertolongan. Roy sudah tidak bernafas.

***

Roy masih dalam kebimbangan. Sukmanya seperti disedot oleh tangis yang pernah ia kenal. Tangis istri tercintanya. Dengan pelan, Roy melepas genggaman tangan Patih. Ia berbalik arah dan sempat melambaikan tangan kepada bocah yang dianggapnya sebagai putranya. Ia tersenyum dan menundukkan kepala sejenak kepada Patih. Ketika ia mendongak, Patih sudah tidak ada ditempat semula. Bocah itu juga telah menghilang. Jembatan pun sirna. Yang ada hanya lautan lepas. Roy berlari sangat kencang. Ia berteriak dalam hati, Sorayaaaa…..!!!!

Lama sekali Roy menyusuri hutan, tak ditemukannya badan jasmani yang telah ia tinggalkan di gua. Ia hanya menemukan telapak-telapak manusia yang melijekkan rerumputan. Ia kehilangan arah. Kemana ia harus pergi…

***

Soraya tidak henti-hentinya berdoa kepada Dewa-Dewi untuk keselamatan sang suami. Kata tim Sar, Roy telah kehilangan nyawa. Kemungkinan ia hidup sangat tipis. Tapi Soraya tetap teguh pendirian, bahwa Roy harus segera dibawa ke rumah sakit.

Perlengkapan dokter yang diikutsertakan tim Sar serasa tak berarti lagi. Nafas bantuan tak mempan. Sementara Soraya tetap kumat-kamit memohon, bahwa dirinya belum siap ditinggalkan sang suami.

Perjalanan menuruni gunung sangat panjang dan melelahkan. Sampailah mereka di areal parkir. Tim Sar menidurkan Roy di semak-semak. Dada Roy ditekan-tekan oleh dokter, sementara tim Sar sibuk menghubungi pihak lain untuk meminta bantuan.

***

Roy berlari tiada henti, ia mengejar istrinya hingga kehabisan energi, larinya seperti kilat. Seklebat seperti cahaya. Mata Roy terasa basah saat ia menemukan istrinya sedang terisak sambil memeluk tubuh seorang pria yang sedang lunglai tak bernafas. Roy terus memandang wajah onggokan tubuh itu, sesekali menggerayangi wajahnya sendiri, mengamati tubuh itu dan mengamati tubuhnya sendiri. Berukuran sama, berbaju sama, bernama sama. Apabila saat itu ada sebuah cermin, sukma Roy memang berpostur sama dengan tubuh itu.

Tiba-tiba Roy silau akan cahaya terpancar dari langit yang menerpa ubun-ubunnya. Dengan spontan, raga lunglai itu menyedot sukma Roy yang kini berkilat cahaya emas. Sukma itu mencari-cari posisinya dalam tubuh mati itu. “Oh Dewa, tolonglah suamiku, jangan kau ambil dia dariku, maafkan atas permintaanku yang berlebihan ini,” doa Soraya lirih. Dalam pelukan erat Soraya, tiba-tiba saja jemari tangan Roy bergerak pelan. Jantungnya kembali berdetak, meski sangat lemah. Hidungnya menghirup udara segar pegunungan. Sepertinya kehidupan Roy dimulai kembali, layaknya Adam telah tercipta untuk Hawa. “Ajaib!” pikir Soraya. Tangan Soraya tak pernah lepas dari jari jemari Roy. Sesekali Soraya memeluk dan mencium kening suaminya, ibarat ia adalah bayi yang sedang berkenalan dengan alam semesta nan luas. Dan, seketika itu pula, mereka menancap gas dan bergegas menuju rumah sakit terdekat.

Sumber lukisan: http://www.modernartimages.com

  • Share/Bookmark
You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “Cerpen: SUKMA”

  1. [...] Baca Detail Cerpen: Cerpen: SUKMA | MENULISYUK KOMUNIKATA ~ when words communicate [...]

Leave a Reply

Developed by BataviaWEB!